LIKE FANPAGE FB YANG BARU KLIK DISINI Namanya Penyegar Timeline Malam atau cari @segarmalamceria

Tempat nonton bokep indo, bokep china, bokep barat, bokep waria, komik hentai, onlyfans leaks dan mulai dari cewek ABG sampe tante-tante, semua ada disini

Bagian 1

Waktu itu liburan sekolah. Adri dan Ibunya diundang Bagas dan Kak Irma ke rumah mereka di kota. Bagas adalah kakak iparnya sedangkan Kak Irma dan Adri selisih empat tahun.

Ibuku sangat menyayangi Adri sebagai anak terakhir, berharap dia lulus sekolah dengan nilai baik dan melanjutkan kuliah atau kerja di tempat yang bagus. Mereka ke tempat Bagas, ya Adri menyebutnya hanya nama karena meniru Kak Irma yang memanggil suaminya hanya dengan namanya.

“Dri, kalau datang ke sini gak usah bawa banyak barang, ibu juga daripada repot bawanya. Nanti aku atau Bagas pinjami atau beli. Nanti bawa pulang lumayan bawa barang-barang baru.”

“Iya kak, gimana praktisnya aja. Cuma apa gak keluar duit mahal?”

“Halah… kamu dan ibu berapa kali ke sini, belum tentu setahun dua kali. Gak usah dipikirin, aku dan Bagas nanti malah merasa terhina ha ha ha…”

Adri dan ibunya berangkat dengan tiket yang juga dibelikan oleh Bagas. Mereka hidup berdua saja di rumah peninggalan Ayah. Ibu Adri bekerja keras berjualan dan merekrut beberapa tetangga untuk usaha jahitan. Macam-macam lah supaya ekonomi terjaga dan bisa membantu tetangga. Di situ kekaguman Adri pada ibunya pelan-pelan tumbuh dan dia tidak mau mengecewakan ibunya.

Kak Irma menurutku mikirnya serampangan, menikah ketika ayah masih ada. Jarang melihat bagaimana ibunya berjuang membiayai usaha dan sekolah Adri. Walaupun kak Irma bukan berarti tidak peduli karena masih sering ngirim duit sedikit-sedikit, lumayan membantu.

Mereka berangkat disuruh zero cost, alias anak dan menantunya yang bayarin.

Sampai di terminal mereka sudah disambut oleh kak Irma. Bagas gak bisa jemput karena masih ngantor. Adri agak terkejut melihat dandanan kak Irma. Dengan atasan tank top dan rok mini, kulit coklat tapi mulus kak Irma terpampang di mana-mana. Karena sesuai kesepakatan mereka tidak membawa banyak barang, jadinya tidak perlu panggil tenaga portir. Adri bisa membawa sendiri bagasi ke mobil kak Irma.

Di mobil kak Irma malah menyuruh adiknya duduk di belakang biar ibu di depan biar bisa leluasa melihat pemandangan. Sepanjang perjalanan, kak Irma ngobrol dengan ibu. Termasuk dandanan kak Irma yang menurut ibu terlalu terbuka.

“Ir, pakai bajunya yang lebih banyak kainnya gitu, ibu usaha jahit, nanti bisa ibu buatkan.”

“Lho ini, lagi trend dan nyaman dipakainya Bu, apalagi sekarang udara semakin panas.”

Adri mendengarkan mereka berdua sambil beberapa kali melirik ke paha kak Irma yang roknya tersingkap. Walaupun dia kakak perempuannya tapi karena sudah hampir gak pernah ketemu, jadi kulit kak Irma menjadi pemandangan yang indah baginya. Ketika sinar datang dari depan mobil, Adri bisa melihat belahan dada kak Irma dari pantulan kaca mobil.

“Ibu nanti boleh coba dan buktiin deh. Pakai punya aku juga gak apa-apa, sepertinya ukuran kita gak jauh beda. Ibu hebat dietnya.” kak Irma ketawa.

“Bukan diet Ir, tapi banyak kerja dan kurang makan ini.”

Mereka berdua ketawa lagi. Adri mengakui tubuh ibunya juga masih seksi. Mungkin karena banyak gerak dan mikir demi usaha mereka jadi seperti jadi diet alami. Kontras dengan baju anaknya Irma, ibu Adri mengenakan lengan panjang dan rok panjang, ibu suka yang relatif tertutup karena lebih aman. Sebagai seorang janda, penampilan adalah hal yang sensitif, terlalu terbuka malah dianggap gatal. Tapi Adri tahu ibunya punya koleksi baju pendek agak terbuka cuma gak pernah dipakai. Kulit ibu agak terang dibandingkan kak Irma yang mewarisi kulit coklat ayahnya.

Akhirnya mereka tiba di rumah Irma dan Bagas. Adri dan Ibunya disuruh menempati sebuah kamar yang cukup luas.

“Maaf Bu, Dri… aku sama Bagas baru sempet nyiapin satu kamar dulu. Gapapa ya? Bednya luas, masih relatif nyaman lah.”

Tidak hanya satu kamar bednya pun cuma satu. Tapi bagaimana lagi ini mereka tidak mengeluarkan biaya apa-apa sampai rumah Irma. Akhirnya mereka unpacking barang-barang mereka yang tidak terlalu banyak. Lalu mereka mandi. Adri melihat baju-baju yang ternyata sudah disediakan di lemari kamar mereka sementara ibunya mandi. Tidak terlalu istimewa banyak celana boxer dan kaus oblong untuk santai. Hanya saja tumpukan baju untuk ibunya sepertinya milik kak Irma. Tank top, rok mini dan daster mini berbahan tipis. Bagus sih bahannya tapi tidak terbayangkan ibunya pakai model begitu. Adri mengambil baju ganti seadanya dan mandi setelah ibu selesai.

Di kamar mandi Adri masih terbayang tubuh kakaknya di mobil tadi. Dan membayangkan ibunya memakai baju-baju selera kak Irma. Penisnya jadi mengeras dan tiba-tiba tangannya sudah menggenggam mengocoknya. Bayangan teman-temannya dan bintang film dengan pakaian minimalis mereka melayang di pikiran Adri.

“Dri, sudah mandinya? Bagas dah pulang ketemu bentar yuk.”

Lamunanku buyar, penisnya masih tegak nanggung disiramnya dengan air dingin supaya segera tidur lagi. Tapi rasa nanggung itu masih tersisa. Adri terburu-buru masuk kamar bersiap ketemu kakak iparnya. Adri hanya punya kakak perempuan jadi Bagas seperti kakak laki-lakinya yang bisa diajak ngobrol secara laki-laki setelah ayah.

Adri masuk kamar dan kaget melihat ibunya sedang mencoba baju-baju dari Irma. Dia belum pernah melihat ibunya berpakaian se seksi itu. Ibunya terkejut sambil menutupi baju yang dipakainya dengan selimut.

“Bu maaf aku langsung masuk kamar.”

“Gapapa Dri, tapi mestinya kamu ketuk pintu dulu. Dri, masa ibu pakai model beginian? Masih cocok gak sama umur?”

Ibunya yang kembali melihat baju yang dipakainya di cermin meminta pertimbangan dari anaknya. Penis Adri yang sudah nanggung dari kamar mandi tadi berdiri lagi dengan cepat. Model boxernya menyebabkan tonjolan penis yang mengeras lebih kelihatan. Aku berusaha mengalihkan pikiran dan fokus pada pertanyaan ibunya. Sambil duduk supaya tidak terlalu kelihatan kalau dia ereksi di depan ibunya.

“Dipakai saja Bu, sepertinya tidak ada pilihan lain, nanti bisa kita beli yang ibu cocok.”

“Tapi ini bagus juga, nanti dikira kakakmu model bajunya jelek.”

Akhirnya ibunya memutuskan pakai daster saja yang lebih sesuai umurnya. Walaupun bahannya tipis dan pendek di atas lutut. Kalau dibuat duduk pasti pahanya kelihatan. Adri mengumpat sialan penisnya tidak kunjung tidur. Adri selama ini hampir tidak pernah terpikirkan berbuat kurang ajar ke Ibunya. Tapi baju yang dipakai ibunya sekarang membuat Adri berpikir beda. Akhirnya untuk mengurangi kesan seksi daster ibu dirangkap dengan kaos sehingga pundak ibu tertutup. Walaupun demikian masih terlihat lengan ibunya yang mulus.

Mereka ketemu dengan Bagas dan Irma. Mereka berkali-kali melayangkan pujian ke Ibu Irma dan Adri.

“Dri, habis sekolah mau terus ke mana?”

“Apa kerja dulu ya Kak?”

” Saranku sih gitu, cari pengalaman dulu di dunia kerja nyata. Kalau kamu habis itu mau sekolah lagi bisa sambil kerja. Asal kuat dan rajin.”

Adri melirik ke Ibu yang sedang ngobrol dengan kakaknya Irma, tidak sadar ibu membiarkan pahanya tersingkap. Adri melongo dan pelan penisnya menegang lagi. Dia tersadar dari menatap paha ibu karena Bagas melihatnya. Bagas sepertinya juga memandang paha ibu mertuanya walaupun sekilas.

“Kalau kamu sudah lebih mandiri, ibu mungkin bisa menikah lagi biar gak sendirian. Aku pikir ibu masih cantik.”

Malamnya Adri tidur seranjang dengan ibunya. Hal yang sudah tidak pernah mereka lakukan sejak Adri kelas 6 SD. Adri berusaha membuang jauh-jauh pikiran seksi ibu dan kakaknya. Tapi pakaian ibu yang tipis dan di atas lutut sepertinya terlalu menggoda.

“Lucu ya Dri kamu sudah gede sekarang malah tidur sekamar sama ibu, he he he ..”

“Sekali -sekali Bu jarang kita jalan-jalan kita nginepnya juga gak lama-lama kan rencananya?”

“Kalau Bagas bisa nyari pekerjaan buat kamu, mungkin kamu agak lama di sini, ibu bisa pulang.”

Sayup-sayup kami mendengar suara rintihan dari kamar sebelah. Rupanya Bagas dan Kak Irma sedang bersetubuh, suara mereka tidak keras tetapi karena tidak ada suara lainnya, suara seperti itu tidak mungkin disalah artikan.

“Oh sayangku aku selalu suka kontolmu dalam memekku sayang, oh besar banget. Aku selalu suka kamu bikin aku selalu dapet.”

“Ini sayang ambil, ugh ugh ugh….”

Adri dan ibunya berpandangan mendengar suara mereka. Ibunya lalu memejamkan mata dan balik badan. Tadinya Adri yang sudah mulai bisa menurunkan tensi birahinya kini naik lagi. Ibunya menarik selimut menutupi badannya dan berusaha tidur. Adri juga berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa tidur gara-gara suara erotis dari kamar sebelah. Dipandanginya ibunya dari belakang, penasaran apakah sudah tidur. Sepertinya sudah tidur walaupun tidak ada dengkuran, Adri menarik selimut ibunya dan tidak ada reaksi. Pelan-pelan kini Adri bisa melihat punggung ibunya dibalut daster tipis. Tampak CDnya menerawang dan pahanya tersingkap karena daster yang pendek. Adri perlahan mengeluarkan penisnya di balik selimut. Entah pikirannya yang sudah keruh oleh apa yang dilihatnya dari siang, suara Bagas dan kak Irma dan kini tubuh ibunya yang seksi di hadapannya. Dia mengocok penisnya di belakang ibunya. Memandang tubuhnya dari rambut sampai kaki. Tali BH dan CD yang menerawang membuatnya semakin tidak tahan. Adri menyemprotkan spermanya sebanyak-banyaknya di dalam selimut. Pertama kalinya ibu menjadi objek imajinasi memuaskan nafsu birahinya. Adri langsung tertidur setelah birahinya tersalurkan melalui masturbasi di belakang ibunya.

Ibu Adri membuka mata lalu memutar badan agar bisa menoleh ke anaknya. Dia melihat anaknya sudah tidur. Dia sebenarnya terangsang juga dengan suara anaknya yang sedang bersetubuh di kamar sebelah tapi memutuskan untuk diam menahan. Udara agak dingin, ibu Adri menarik selimut sedikit untuk menutupi tubuhnya. Tak disangka tangannya menyentuh cairan lengket banyak sekali. Bayangan anaknya masturbasi di belakangnya mulai mengusik pikirannya. Diambilnya cairan kental yang merupakan sperma anaknya, mengumpul agak banyak di ujung jari-jarinya. Lalu ia gunakan untuk mengusap kewanitaannya. Ia masturbasi menyusul anaknya yang sekarang sudah tidur. Cairan sperma anaknya menjadi pelumas agar jari-jarinya lancar mengocok kewanitaannya. Rasanya sangat seksi menggunakan sperma sebagai pelumas. Ibu Adri mendapatkan orgasmenya dengan cepat dan ia pun tertidur..

KOMIK LAINNYA